Nafas sebuah Enigma

October 18, 2009 at 12:03 pm (Uncategorized)

Demi Tuhan, aku tak ingin kehilangan rasa ini. Rasa yang merasuk ke tulang dan ragaku. Petang ini, rangkaian awan putih menari bersama sang mega. Menitikan kelelahannya sesaat kepada sang terang. Menembus dimensi yang termajinalkan. Ia tak perduli dengan hiruk pikuk para penelan madu yang sedang berpesta-pora malam ini. Ia sedang tak berselera pada sang penekuk hati. Menjentikkan jarinya untuk mengusir kegundahan dari piring-piring yang menjejalkan kelezatan sang beban bernama utopia. Ia sedang merajut kumparan senyum kecilnya yang rapuh.

Dansanya dengan sang waktu begitu membuatku terpana. Seolah-olah enigma itu terbuka dan menunjukkan polanya. Memberikan seliter jawaban pada botol yang kosong ini. Yang terus bertanya pada kelamnya rahasia ilahi.

Sering kali para penikmat nafas ini  melupakan khilafnya jelang guguran nyawa di tanah merah. Menghiraukan tiap detik dalam sumpahnya. Bergunjing pada dekapan anugerah yang ada, tanpa tersadar insentif dari kriptonisasi yang diberikan ini hanya sementara waktu sebagai  autentifikasi keberadaan Sang Tunggal.  Ia tak geram, hanya berbisik. Namun, semua berpaling sambil menikmati secangkir  duniawi.

Permalink Leave a Comment

kelambu untuk sang naga

October 1, 2009 at 10:26 am (Uncategorized)

Kelambu untuk Sang Naga
Tempayan ini penuh oleh air tetesan hujan yang datang dari benak sang musafir. Benaknya diselubungi kabut waktu yang terus memaksanya keluar dari nikmatnya sabana. Bebaring di tepi perapian membuatnya hangat sejenak. Perjalanan masih terasa berat dan melelahkan. Sabana terasa bagai fatamorgana di gurun gersang. Hanya dengan membunuh waktu untuk mengenakannya. Aroma terapi pun tak sanggup menggantikan nyamannya rerumputan kandang sang musafir. Peluh ini butuh dam yang membendungnya. Aku ingin dentingan waktu bergerak mundur. Mendiami rahim seorang betina. Bergerak lambat. Menyentuh dinding-dinding lunak dan lapisan ketuban. Seperti mati suri. Bayi yang lunak di rahim menunggu kecupan manis dari calon bidadarinya yang ia sembah kakinya untuk singgasana firdaus. Ia menunggu dan terus menunggu sambil bergerak perlahan merangkai jari-jarinya yang indah. Meringkuk layaknya penari balet di pentas bangau. Saatnya tiba, dekapan surgawi sang bidadari mengelambuinya. Begitu pun aku.

Permalink Leave a Comment

Matinya sang Hipokrit

April 5, 2009 at 3:23 am (Uncategorized)

Hibernasi seperti sebuah anastesi bagi beruang untuk sejenak mengistirahatkan tubuh dari kepenatannya. Petualang ini pun ingin berhibernasi dalam keabadian dengan mengecap keeuthanasiaannya. Derik para jarik, kunang-kunang yang menggeliat terang di tengah temaramnya malam, membahana dalam kroninya membentuk simfoni indah. Aku tak ingin menjadi seorang hipokrit sejati dalam petualangannya. Terbenam batin dalam sumur yang gelap dan dingin. Ia ingin bebas, seperti elang yang terbang dengan gagahnya. Kepakan sayapnya seolah melambai, layaknya sebuah persuasi bagi khalayak yang memandangnya.

Berbaring di tengah sabana adalah kerinduan sang betina. Ia sangat rindu akan hal itu. Hari ini, kemarin, sabana itu masih berupa tanah kosong yang gersang. Tapi esok ia ingin sabana itu kembali subur. Tempat di mana domba-domba gemuk siap digembalai seekor anjing peternakan. Ia dapat tersungkur nyaman di tengahnya. Namun, kini ia sedang sibuk dengan angka dan huruf yang menari-nari di carikan kertas. Mungkin tempayan fantasinya mulai penuh dengan tetesan air sampai luber layaknya es yang mencair. Tapi, betina tidak akan mudah bermetamorfosis menjadi bongkahan es. Karena, fantasi akan menjadi realisasi di esok hari. Cibiran semut merah akan memudar oleh pijakan kaki si betina, mati ditelan panggung sandiwara.

Permalink 2 Comments

kumparan rapuh

March 31, 2009 at 8:45 am (Uncategorized)

Pusaran badai telah menenangkan sejenak kota ini setelah amarahnya mengempaskan daun-daun yang tergantung elok ditepian ranting. Betina merajut kembali fantasi yang sudah tersungkur dihangatnya pulau peristirahatan. Mengguncangkan ilusi agar ia tak terlena lagi dengan kutipan-kutipan syair sang penyair kacangan. Harapan yang akan datang terus berkelana dengan kudanya.

Permalink Leave a Comment

Lembayung Nada

March 28, 2009 at 6:04 am (Uncategorized)

Sungkan singgah ditirai ilusiku bahwa saat ini gadis pucat ini akan terus melenggang kangkung berkelana sebagai musafir cinta di koloni kebinekaan negeri seberang dari istananya. Rindu akan kamar luas di sebuah istana yang harus dilewati dengan mengotori ujung celana jeansnya karena percikan lumpur kotor dan ramah bakteri. Rindu akan pertengkaran kecil dengan raja dan ratu. Rindu akan geng kucing yang siap melempar mata memelas ketika perut2 mereka mulai keroncongan. Rindu akan tempat tidur yang menemaniku ronda dan berkeluh kesah saat hidup mulai berfluktuasi. Waktu kembali bersenandung keharibaan nada yang terus bergulir, memainkan not-not kehidupan. Ketika sang konduktor mulai memainkan tongkatnya segenap jiwa kelompok orchestra mulai memainkan alat musiknya sambil melihat rangkaian not dipartitur. Aku hanyalah bagian dari kelompok orchestra itu yang siap mengikuti alunan tongkat sang konduktor, sang penguasa kerajaan langit dan bumi. Dan partiturku adalah pedoman kehidupan yang berisi petunjuk kehidupan yang penuh misteri ini. Lekukan dramatis terkadang dapat kulakoni dalam panggung sandiwara ini. Masa itu tersedialah kruk yang siap menopang kakiku yang patah. Sang naga ini lagi-lagi harus tergolek lemas tanpa api di raganya. Semburan apinya hanya keluar berupa asap kecil yang terbang bersama segumpalan awan nimbus. Kemudian, bersinergi menjadi sebuah kondensasi. Turun perlahan melewati kulit pucatnya. Sambil mencoba berdiri tegak kembali membusungkan dadanya bak pasukan tentara dengan sikap siapnya. Terkadang bosan yang kupikirkan. Sebagai pemanah sejati, tak sedikit semut-semut nakal yang bergosip ria dipinggir piring. Menekukkan bibirnya yang penuh akan gula manis namun siap membuat sengatan kecil dikulit. Tah kenapa bisa begini. Aku tak bergeming melihat tentara semut lewat dihadapan kedua retinaku. Mereka enggan menyapaku. Karena kulitku yang pucat dan stimulus otakku yang sedikit melenceng jalur. Sang naga mungkin tak akan pernah terlihat layu dan berkulit mulus. Ia selalu berperang dan ditungganggi sang ksatria yang abadi akan darah ini. Namun, ketika pensiun ia hanya menginginkan satu hal. Tergeletak lemas dipangkuan sang ksatria. Tersenyum manis ketika tentara semut akhirnya lenyap ditelan harumnya tanah merah itu. Dan mendengar akhir dari alunan nada yang bergelora di dada.
Terang adalah kegagalan awan berperangai keras terhadap sinerginya….
Hidup adalah remahan roti yang ditebarkan oleh kekuatan Maha dahsyat, tercecer untuk masing-masing lenyap dimakan waktu…
Mataku adalah bagian dari saksi akan naga yang mati…
Tanganku adalah bagian dari terciptanya goresan ini….

Permalink 1 Comment